Selasa, 13 Oktober 2009
Minggu, 20 September 2009
kebajikan..
jika tidak ada ilusi,maka juga tidak ada pencerahan. Kebajikan bukan terletak pada seberapa besar materi yang dapat kita berikan, tetapi seberapa besar kita mampu mengangkat kenistaan orang-orang di sekitar kita. Kecantikan tanpa kabajikan ibarat bunga tanpa keharuman.
Kamis, 20 Agustus 2009
Bagiku Doa Adalah Kesadaran
Semenjak aku menyadari bahwa doa adalah kesadaran, aku tahu bahwa selama ini doa-doa yang aku lakukan hanyalah kekosongan yang tak berarti sama sekali. Bahkan bisa dibilang selama ini aku berdoa hanyalah sebatas kata-kata dan berdiam dalam kekosongan semata, dimana semua itu mengalir begitu saja tanpa tahu atas apa yang aku lakukan. Bahkan pada saat-saat tertentu aku merasakan doaku hanyalah kata-kata yang tak berarti, keberdiaman dalam lamunan, dan tindakan karena ikut-ikutan. Bahkan aku berdoa hanya ketika aku membutuhkannya saja.
Seringkali aku dan bahkan semua orang mengatakan doa sebagai nafas hidup, atau doa adalah berbicara dengan Tuhan. Atau apalah itu yang seringkali orang katakan. Yang pasti tidak sedikit yang memberikan kesimpulan atas doa yang mereka lakukan. Aku pun percaya arti doa itu benar-benar seperti itu bagi pencetus pertama kali yang mengatakan ungkapan-ungkapan akan arti doa itu sendiri. Tetapi aku bertanya pada diriku bahkan pada orang yang mendengarkan hal itu, bisakah begitu saja orang mengerti? Dan aku yakin tidak begitu saja dapat meyakininya, hanya saja karena seringkali aku atau anda merasa bahwa itu tidak terbantahkan, aku atau bahkan anda menganggukkan kepala pertanda setuju. Tetapi dari kedalaman hatiku dan anda sepertinya tidak begitu saja dapat diterima secara mutlak.
Untuk pertama kali seseorang memahami doa bahkan diriku sendiri membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar menyadari akan doa itu. Doa yang dahulu aku lakukan dan yang sekarang aku lakukan tidaklah sama. Masing-masing memiliki dayanya sendiri-sendiri. Anda bertanya, seperti apakah itu? Dan aku hanya akan mengatakan, silahkan perhatikan pengalaman anda ketika berdoa selama ini.
Yang aku tahu saat ini “Berdoa bukanlah sekedar kata-kata, berdiam dan tindakan, namun juga kesadaran terhadap doa itu sendiri”. Bagaimana menurut anda? Aku pun yakin anda juga sulit memahami ungkapan ini, tetapi yang dapat aku ungkapkan untuk saat ini adalah semacam itu, bagaimanakah aku akan menjelaskan semua ini? Mari bersama-sama mencerna baik-baik ungkapan tersebut dalam ranah pemikiran kita dan biarkan mencemari perasaan dan hati kita. Aku tahu bahwa kesadaran adalan penting dalam berdoa. Pembimbing Rohaniku mengajarkan hal itu, bisa dibilang cukup sederhana dalam pemahaman itu, Aku melihat semua itu dari pengalamanku sendiri dan bukan sekedar dari buku-buku atapun bacaan-bacaan yang ada di dunia ini, tetapi juga dari apa yang aku lakukan selama ini.
Aku memahami doa adalah kesadaran adalah ketika pembimbing rohaniku bertanya “Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika ada orang mengatakan ‘Marilah berdoa’? aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi saat itu, yang ada dalam benakku yah sudah biasa atau apalah saat itu, tetapi bukanlah itu yang sebenarnya. Kemudian bla…bla..bla pembimbingku memberikan penjelasan akan semua itu, tatapi aku hanya terpaku akan satu hal, bahwa doa adalah kesadaran dan bukan sekedar kata-kata, berdiam dan tindakan, namun juga kesadaran terhadap doa itu.
Sebagai contoh kongkrit dalam pemahaman doa yang aku sadari saat ini adalah sebagai berikut; selama ini aku sebagai orang Kristen tentunya, memiliki doa yang sungguh luar biasa, namun seringkali kesadaranku belum sepenuhnya, yaitu doa Bapa Kami. Sejak aku diberi pelajaran doa Bapa Kami oleh Guru, dan orang tuaku, maka sampai sekarang masih begitu membekas dalam memori ingatanku, dan aku sering mendoakannya. Yang menjadi pertanyaannya adalah sungguhkah aku menyadari akan doa itu? Aku rasa jika hal ini ditanyakan ke anda tentu anda masing-masing punya pendapat sendiri, bahkan di dalam buku tertentu yang pernah aku baca (penulis lupa buku apa itu..he..he…) yang membahas tentang doa Bapa Kami, menjelaskan begitu rinci kandungan Doa Bapa Kami tersebut. Tetapi bagiku sendiri arti doa Bapa Kami itu tidak semua sama dengan yang dituliskan dalam buku tersebut. Bukan berarti saya menolak atas apa yang telah dituliskan dalam buku yang pernah aku baca saat itu, tetapi aku memiliki pemahaman yang berbeda dengan apa yang ada di dalam tulisan tersebut yang memaparkan akan kandungan yang ada dalam doa Bapa Kami.
Aku tidak akan membahasnya di sini, tetapi saya hanya mau mengatakan bahwa ketika aku menyadari akan doa Bapa Kami, ternyata begitu dalam arti dan maknanya. Sekarang aku menyadari di dalam doa Bapa Kami tersebut ternyata ada banyak hal yang menjadikan saya begitu yakin bahwa tak ada doa yang lebih sempurna selain doa Bapa Kami. Bagaimana aku memahami doa itu sehingga aku bisa mengatakan hal ini, tentu tidak begitu saja aku meyakininya. Sekaranglah saya merasa seolah-olah diriku hidup dalam doa itu. Anda boleh menyanggah pendapatku ini karena saya yakin setiap orang memahami doa itu pun berbeda-beda.
Untuk membuktikanya mari kita coba perhatikan bagaimana orang menyikapi doa Bapa Kami, banyak yang mengubah-ubah doa Bapa Kami tersebut. Yang menjadi pertanyaan saya adalah Tepatkah hal itu? Dan pernahkah anda-anda merasa janggal ketika doa Bapa Kami itu tidak sama lagi ketika kita mengucapkanya? Sebagai contoh; dalam doa Bapa Kami yang sering kita nyanyikan dalamGereja , coba perhatikan doa Bapa Kami Filipina..Disana ada yang membuat saya merasa janggal; khususnya dalam kalimat ini “…Dibumi dan disurga..” coba bandingkan pula dengan kalimat yang ini “…diatas bumi seperti di dalam surga…”, apakah anda menyadari akan dua perbedaan tersebut? Sekarang iya,,,tetapi ketika orang sudah dibawa masuk di dalam doa tersebut tentu dianggap sudah biasa dan enak saja, karena memang sudah biasa begitu…yang hendak saya katakan bahwa hal itu bagi saya adalah sebuah kekeliruan dalam dunia doa kita. “…Di Bumi dan di Surga…”, tak ada artinya sama sekali, tetapi “…diatas Bumi seperti di dalam Surga…” ada sesuatu yang sangat berbeda, ada suatu ajakan dan suatu harapan yang dinanti-nantikan.
“..Diatas Bumi seperti di dalam Surga…” mengajak kita semua untuk menghadirkan surga itu di dunia ini, sebagaimana ungkapan Yesus “ waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah kepada Injil”(Mrk 1:15).
Seringkali muncul pertanyaan seperti ini, “Menghadirkan Kerajaan Allah itu bagaimana sih…?” Atau mungkin banyak diantara semua yang membaca ini masih bingung surga itu seperti apa? Aku sendiri juga bingung surga itu seperti apa, tetapi aku tidak ingin bingung terus akan hal itu, bagiku saat ini di dalam surga yang ada adalah kebenaran, sukacita dan damai sejahtera. Bukankah Yesus sendiri yang mengatakan hal itu? (penulis menganjurkan membaca injil jika merasa tidak yakin,,,he..he..).
Kembali aku mengajak anda untuk melihat kembali bagaimana doa-doa yang selama ini kita hayati, sudahkah Doa adalan kesadaran bagi anda semua?
Seringkali aku dan bahkan semua orang mengatakan doa sebagai nafas hidup, atau doa adalah berbicara dengan Tuhan. Atau apalah itu yang seringkali orang katakan. Yang pasti tidak sedikit yang memberikan kesimpulan atas doa yang mereka lakukan. Aku pun percaya arti doa itu benar-benar seperti itu bagi pencetus pertama kali yang mengatakan ungkapan-ungkapan akan arti doa itu sendiri. Tetapi aku bertanya pada diriku bahkan pada orang yang mendengarkan hal itu, bisakah begitu saja orang mengerti? Dan aku yakin tidak begitu saja dapat meyakininya, hanya saja karena seringkali aku atau anda merasa bahwa itu tidak terbantahkan, aku atau bahkan anda menganggukkan kepala pertanda setuju. Tetapi dari kedalaman hatiku dan anda sepertinya tidak begitu saja dapat diterima secara mutlak.
Untuk pertama kali seseorang memahami doa bahkan diriku sendiri membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar menyadari akan doa itu. Doa yang dahulu aku lakukan dan yang sekarang aku lakukan tidaklah sama. Masing-masing memiliki dayanya sendiri-sendiri. Anda bertanya, seperti apakah itu? Dan aku hanya akan mengatakan, silahkan perhatikan pengalaman anda ketika berdoa selama ini.
Yang aku tahu saat ini “Berdoa bukanlah sekedar kata-kata, berdiam dan tindakan, namun juga kesadaran terhadap doa itu sendiri”. Bagaimana menurut anda? Aku pun yakin anda juga sulit memahami ungkapan ini, tetapi yang dapat aku ungkapkan untuk saat ini adalah semacam itu, bagaimanakah aku akan menjelaskan semua ini? Mari bersama-sama mencerna baik-baik ungkapan tersebut dalam ranah pemikiran kita dan biarkan mencemari perasaan dan hati kita. Aku tahu bahwa kesadaran adalan penting dalam berdoa. Pembimbing Rohaniku mengajarkan hal itu, bisa dibilang cukup sederhana dalam pemahaman itu, Aku melihat semua itu dari pengalamanku sendiri dan bukan sekedar dari buku-buku atapun bacaan-bacaan yang ada di dunia ini, tetapi juga dari apa yang aku lakukan selama ini.
Aku memahami doa adalah kesadaran adalah ketika pembimbing rohaniku bertanya “Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika ada orang mengatakan ‘Marilah berdoa’? aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi saat itu, yang ada dalam benakku yah sudah biasa atau apalah saat itu, tetapi bukanlah itu yang sebenarnya. Kemudian bla…bla..bla pembimbingku memberikan penjelasan akan semua itu, tatapi aku hanya terpaku akan satu hal, bahwa doa adalah kesadaran dan bukan sekedar kata-kata, berdiam dan tindakan, namun juga kesadaran terhadap doa itu.
Sebagai contoh kongkrit dalam pemahaman doa yang aku sadari saat ini adalah sebagai berikut; selama ini aku sebagai orang Kristen tentunya, memiliki doa yang sungguh luar biasa, namun seringkali kesadaranku belum sepenuhnya, yaitu doa Bapa Kami. Sejak aku diberi pelajaran doa Bapa Kami oleh Guru, dan orang tuaku, maka sampai sekarang masih begitu membekas dalam memori ingatanku, dan aku sering mendoakannya. Yang menjadi pertanyaannya adalah sungguhkah aku menyadari akan doa itu? Aku rasa jika hal ini ditanyakan ke anda tentu anda masing-masing punya pendapat sendiri, bahkan di dalam buku tertentu yang pernah aku baca (penulis lupa buku apa itu..he..he…) yang membahas tentang doa Bapa Kami, menjelaskan begitu rinci kandungan Doa Bapa Kami tersebut. Tetapi bagiku sendiri arti doa Bapa Kami itu tidak semua sama dengan yang dituliskan dalam buku tersebut. Bukan berarti saya menolak atas apa yang telah dituliskan dalam buku yang pernah aku baca saat itu, tetapi aku memiliki pemahaman yang berbeda dengan apa yang ada di dalam tulisan tersebut yang memaparkan akan kandungan yang ada dalam doa Bapa Kami.
Aku tidak akan membahasnya di sini, tetapi saya hanya mau mengatakan bahwa ketika aku menyadari akan doa Bapa Kami, ternyata begitu dalam arti dan maknanya. Sekarang aku menyadari di dalam doa Bapa Kami tersebut ternyata ada banyak hal yang menjadikan saya begitu yakin bahwa tak ada doa yang lebih sempurna selain doa Bapa Kami. Bagaimana aku memahami doa itu sehingga aku bisa mengatakan hal ini, tentu tidak begitu saja aku meyakininya. Sekaranglah saya merasa seolah-olah diriku hidup dalam doa itu. Anda boleh menyanggah pendapatku ini karena saya yakin setiap orang memahami doa itu pun berbeda-beda.
Untuk membuktikanya mari kita coba perhatikan bagaimana orang menyikapi doa Bapa Kami, banyak yang mengubah-ubah doa Bapa Kami tersebut. Yang menjadi pertanyaan saya adalah Tepatkah hal itu? Dan pernahkah anda-anda merasa janggal ketika doa Bapa Kami itu tidak sama lagi ketika kita mengucapkanya? Sebagai contoh; dalam doa Bapa Kami yang sering kita nyanyikan dalamGereja , coba perhatikan doa Bapa Kami Filipina..Disana ada yang membuat saya merasa janggal; khususnya dalam kalimat ini “…Dibumi dan disurga..” coba bandingkan pula dengan kalimat yang ini “…diatas bumi seperti di dalam surga…”, apakah anda menyadari akan dua perbedaan tersebut? Sekarang iya,,,tetapi ketika orang sudah dibawa masuk di dalam doa tersebut tentu dianggap sudah biasa dan enak saja, karena memang sudah biasa begitu…yang hendak saya katakan bahwa hal itu bagi saya adalah sebuah kekeliruan dalam dunia doa kita. “…Di Bumi dan di Surga…”, tak ada artinya sama sekali, tetapi “…diatas Bumi seperti di dalam Surga…” ada sesuatu yang sangat berbeda, ada suatu ajakan dan suatu harapan yang dinanti-nantikan.
“..Diatas Bumi seperti di dalam Surga…” mengajak kita semua untuk menghadirkan surga itu di dunia ini, sebagaimana ungkapan Yesus “ waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah kepada Injil”(Mrk 1:15).
Seringkali muncul pertanyaan seperti ini, “Menghadirkan Kerajaan Allah itu bagaimana sih…?” Atau mungkin banyak diantara semua yang membaca ini masih bingung surga itu seperti apa? Aku sendiri juga bingung surga itu seperti apa, tetapi aku tidak ingin bingung terus akan hal itu, bagiku saat ini di dalam surga yang ada adalah kebenaran, sukacita dan damai sejahtera. Bukankah Yesus sendiri yang mengatakan hal itu? (penulis menganjurkan membaca injil jika merasa tidak yakin,,,he..he..).
Kembali aku mengajak anda untuk melihat kembali bagaimana doa-doa yang selama ini kita hayati, sudahkah Doa adalan kesadaran bagi anda semua?
Sabtu, 25 Juli 2009
Sang Guru Ilahi

Kau datang bukan dari dunia ini
Kau pergi ketempat Ilahi
Sejauh kau tapaki bumi
Semua menari-nari
kala di Bumi Kau di kutuki
Kala pergi kau di puji-puji
Siapa gerangan yang akan mengerti
Jika bukan dengan Hati
setiap insan tunduk semadi
dalam hening dan sunyi
berharap jumpa Sang Guru Ilahi
Tumpang tangan curahkan berkat
Bagi jiwa yang laknat
Dengan penuh mukjizat
Namun apa yang di dapat
Paku, duri, tombak dan hujat
Mengapa ?
Kau tetap tak percaya
Mengapa ?
Kau masih bertanya-tanya
Apa arti takjubmu
Apa arti tanyamu
mungkinkah itu semu
ataukah hanya pemuas dahagamu
Akan darah-darah tak berdosa
Darah-darah tak bertuan
Makanan kuberikan
Orang sakit kusembuhkan
Orang buta ku celikkan
Orang mati ku bangkitkan
Mengapa ?
Justru kau beriku kematian
Dalam tiang penyaliban
Kau pergi ketempat Ilahi
Sejauh kau tapaki bumi
Semua menari-nari
kala di Bumi Kau di kutuki
Kala pergi kau di puji-puji
Siapa gerangan yang akan mengerti
Jika bukan dengan Hati
setiap insan tunduk semadi
dalam hening dan sunyi
berharap jumpa Sang Guru Ilahi
Tumpang tangan curahkan berkat
Bagi jiwa yang laknat
Dengan penuh mukjizat
Namun apa yang di dapat
Paku, duri, tombak dan hujat
Mengapa ?
Kau tetap tak percaya
Mengapa ?
Kau masih bertanya-tanya
Apa arti takjubmu
Apa arti tanyamu
mungkinkah itu semu
ataukah hanya pemuas dahagamu
Akan darah-darah tak berdosa
Darah-darah tak bertuan
Makanan kuberikan
Orang sakit kusembuhkan
Orang buta ku celikkan
Orang mati ku bangkitkan
Mengapa ?
Justru kau beriku kematian
Dalam tiang penyaliban
Senin, 13 Juli 2009
JEJAK JEJAK PALSU
Setapak demi setapak ku laluiJalan menyusur, curam dan terjal
Menggapai hasrat tak tentu pasti
kucoba temukan apa yang tak ku kenal
di dalam dilema hidup yang tak kunjung larut
Ku sangka pasti nyatanya ilusi
kuduga fakta ternyata fana
Gila dunia hantam insan merana
Dalam dekap rindu membahana
Pada sang pembawa nestapa
Kesana kemari tak ku dapati
Secuil harap pun kini tlah pergi
Ku tertatih-tatih langkahkan kaki
menuju tempat tak terbayang tak terkenang
Hilang, lenyap, dalam ngap-ngap kepalsuan
Kepalsuan yang tak tergantikan oleh lumatan kehidupan
Sabtu, 11 Juli 2009
Siapakah Aku?
Sebagaimana apa yang ada dalam gambaran wajahku, berhati-hatilah dalam bertutur kata, sebab dalam kata-katamu akan memunculkan banyak hal yang tidak dapat dimengerti jika tanpa cahaya di dalam pikiranmu. siapakah yang mengenali diriku, jika tanpa kuberi tau akan siapa diriku kepada anda, anda akan tahu siapa saya ketika saya buka apa yang menjadi perwujudan saya sebenarnya. Tetapi amat disayangkan, begitu sulit untuk mempercayai apa yang perlu dipercayai. Akankah perdamaian antara kau dan aku dan antara pencipta-Mu sudah terjadi...
Langganan:
Postingan (Atom)